8 Alasan Tambal Tubeless Itu Bukan Solusi

Mobilitas yang tinggi sudah jadi hal yang normal bagi kehidupan warga Jakarta, dan bukan hal yang wajar juga ditengah mobilitas yang tinggi, ban bocor menjadi kendala utama saat kita berkendara. Yap, memang sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa titik di Jakarta menjadi pusat ranjau darat, bahkan ada tim khusus yang sukarela menyapu ranjau-ranjau darat yang bertebaran di jalan raya. Entah ada oknum-oknum yang dengan tujuan tertentu menyebar berbagai macam benda tajam di sepanjang jalan atau mungkin juga benda-benda tersebut tidak sengaja jatuh dari kendaraan angkutan barang. Tapi yang jelas, ban bocor karena tertusuk benda tajam adalah hal yang wajar di kota Jakarta.

Biasanya, bagaimana cara kalian menyelesaikan masalah tersebut? Datang ke tukang tambal ban, lalu menambalnya dengan tambal tubeless. Ya, semua orang melakukan hal tersebut karena memang cara tersebut yang umum dilakukan dimana-mana. Tapi tahukah kalian bahwa proses penambalan tersebut sebenarnya tidak tepat? Berikut adalah 8 alasan kenapa kamu tidak seharunya melakukan tambal tubeless.

1. Memperbesar kerusakan serat ban

Ban kendaraan merupakan salah satu komponen penting untuk anda berkendara selama di jalan raya. Kondisi ban yang prima memberikan kenyamanan serta keamanan di jalan raya. Walaupun terlihat hanya seperti karet berbentuk bundar yang bertekstur, pada struktur bagian dalamnya, ban terdiri dari serat-serat kawat yang tersusun sedemikian rupa membentuk suatu ikatan yang kuat.

Ketika ban kamu tertusuk benda tajam (paku, baut, dsb) salah satu serat tersebut pasti patah atau rusak yang diakibatkan oleh benda tajam tersebut. Bagaimana pendapatmu ketika kamu tahu bahwa tusukan kecil yang disebabkan oleh paku itu membuat serat ban rusak? Bayangkan, dengan penggunaan cara tambal ban tubeless, ban kamu yang luka tersebut malah ditambal dengan sesuatu yang lebih besar. Bukannya memperbaiki, malah makin memperbesar kerusakan pada serat ban.

2. Memperbesar lubang kebocoran

Pada umumnya, hal yang dilakukan saat perbaikan dengan cara tambal tubeless, adalah menutup kebocoran dengan cara menusukkan tambalan cacing kedalam ban. Sering terjadi, kebocoran ban awalnya hanya berdiameter 2 mm, namun ukuran alat tubeless yang digunakan lebih besar dari 2 mm. Dengan kata lain, teknik tambal tubeless dapat memperbesar lubang menjadi 5 mm dan juga menambah kerusakan serat ban (mematahkan serat ban) menjadi 5 mm. Tanpa anda sadari, ini hanya akan semakin memperburuk area kerusakan.

tripanca_repairbandotcom_blog1_3

3. Pekerjaan dilakukan bukan oleh tenaga professional dengan standard operational yang benar

Seperti yang kita telah bahas diatas bahwa ban terdiri dari lapisan-lapisan serat kawat. Untuk melakukan reparasi, tentunya kita perlu mengetahui kondisi serat ban saat itu, dimana letak kebocoran yang harus diperbaiki, apa cara penambahan yang tepat untuk kondisi kerusakan ban tersebut. Tanpa pengetahuan secara menyeluruh, perbaikan yang dilakukan mungkin saja tidak tepat, bersifat sementara dan tidak permanen. Proses penambalan yang tidak tepat ini tidak hanya merugikan tapi juga berpotensi untuk menimbulkan kerusakan yang terakumulasi dan lebih buruk. Pada akhirnya, sangat berpotensi untuk membahayakan keselamatan kita saat berkendara. Apakah kalian rela keselamatan anda diserahkan kepada tenaga ahli bukan professional?

4. Penambalan tidak tepat sasaran dan membuat lubang baru

Dikarenakan ban tidak dilepas dari velg sehingga tidak adanya proses pemeriksaan yang mendalam. Maka  sering terjadi proses penambalan tidak tepat sasaran. Secara kasat mata, lubang berada disebelah titik (x1,y1) tapi ternyata tambalan cacing ditusuk pada titik (x2,y2). Hasilnya adalah NO TERTAMBAL, adanya adalah LUBANG BARU.

tripanca_repairbandotcom_blog1_1

5. Bocor lagi

Ban memiliki komponen utama dari karet, dimana karet bersifat elastis. Jadi, ketika karet diregangkan secara paksa, maka secara natural akan kembali merapat ke titik relaksasinya. Demikian teori yang digunakan untuk tambal tubeless. Ban yang bocor, dipaksa untuk membuat lubang yang lebih besar dan pada lubang tersebut dimasukkan karet penambal ban (biasa disebut “cacing”) yang telah dilumuri dengan lem dimana dengan sifat dasar karet akan menutup titik kebocoran setelah penyumbatan. Ketika titik kebocoran dirasa sudah rapat, maka ban siap dipakai kembali. Akan tetapi, sayangnya karet memiliki titik elastisitas yang akan pudar setelah beberapa waktu. Alhasil, titik kebocoran tersebut berpotensi untuk BOCOR LAGi karena elastisitas karet yang menurun.

6. Biaya untuk reparasi bertambah

Dikarenakan bocor kembali. Alhasil, kamu harus mengeluarkan kocek lagi untuk menambal di titik bocor yang sama. Yang awalnya dirasa sekali tambal cukup, ternyata titik bocor tersebut memaksa kita untuk merogoh kocek yang sama di masa depan, masa depannya lagi, dan masa depannya lagi karena ternyata point no 5 itu terulang lagi dan lagi. Make sense kan? Kan kalian melakukan hal yang sama, pastinya akan berulang juga.

7. Kesel karena harus balik lagi dan lagi

Melakukan hal yang berulang-ulang pastinya bikin kita kesel. Selain membuang uang, menghambat perjalanan, dan yang paling utama adalah membuang banyak waktu. Seharusnya kita dapat melakukan banyak pekerjaan dihari itu, tapi harus terpotong karena harus menambal ban kembali. Lebih baik kita habiskan waktu untuk gym kan?

8. Setelah mengeluarkan uang banyak untuk tambal tubeless, akhirnya GANTI BAN juga

Ketika ban kamu ditambal berulang-ulang di lokasi yang sama, pastinya lubang di titik tersebut semakin besar dan semakin besar. Coba bayangkan, ketika lubang semakin besar, artinya tidak cukup hanya 1 karet penambal saja yang dibutuhkan, bisa 2 atau 3 untuk 1 kali penambalan. Biaya yang kamu keluarkan akan semakin besar dan hingga di 1 masa ketika lubang yang sudah terlalu besar tidak akan sanggup diperbaiki lagi. Yang kamu lakukan adalah mengganti ban tersebut dengan ban yang baru. Weleh, sudah keluar kocek banyak untuk membetulkan ban, eh ditambah harus beli ban yang baru sekarang. Padahal, bisa jadi itu adalah ban baru yang masih bagus kondisi tapak-tapaknya.

tripanca_repairbandotcom_blog1_4

Nah, itu adalah 8 alasan kenapa kamu tidak seharusnya melakukan tambal tubeless ketika ban kamu bocor. Selebihnya adalah opini kamu terhadap 8 alasan tersebut, apakah kamu setuju atau ada opini lain. Feel free to comment dan #YakinAman saat berkendara.

2 Responses

  1. trus solusinya apa??? memberi masalah tanpa solusi...
    • admin
      Dear Agung... Solusi dari kita adalah menggunakan cara perbaikan dari dalam. Kamu bisa check jasa-jasa kami. Ada banyak sekali pilihan tergantung dengan masalah ban kamu =)

Leave a comment